http://www.facebook.com/danu.suryani/photos

DANU SURYANI

Get Gifs at CodemySpace.com

semoga bermanfaat, dan MOHON KOMENTARNYA !!!

semoga bermanfaat, & MOHON KOMENTARNYA !!!

Silahkan dilihat'.........

Kamis, 12 Januari 2012

Kinerja



         Performance atau dalam bahasa kita dinamakan kinerja menurut Prawirosentono  (2000: 1) adalah  “hasil  kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenangnya dan tanggung jawabnya masing-masing untuk mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral maupun etika”.

Menurut Ambar teguh Sulistiyani “Kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemapuan, usaha dan kesempatan dan kesempatan yang dinilai dari hasil kerjanya” (2003:223).
Sedang menurut Veizel Rivai (2004:309) mengemukakan definisi kinerja adalah “merupakan perilaku  nyata yang ditampilkan  setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan”
1 Evaluasi/Penilaian Kinerja
Menurut Leon C. Megginson dalam A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2007:10) evaluasi/penilaian kinerja adalah “penilaian prestasi kinerja (performance appraisal) adalah suiatu proses yang digunakan pimpinan untuk menntukan apakah seorang karyawan melakukan pekerjaannya sesuai tugas dan tanggungjawabnya.”
Sedangkan menurut Andrew E. Sikula yang dalam A. A. Anwar Prabu mangkunegara (2007:10) memberi pengertian akan penilaian kinerja sebagai berikut; “Penilaian pegawai merupakan evaluasi yang sistematis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan. Penilaian dalam proses penafsiran atau  penentuan niali. Kulaitas atau status dari beberapa obyek orang ataupun sesuatu (barang).”
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut maka dapat dsimpulkan bahwa evaluasi kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan karyawan dan kinerja organisai. Disamping itu juga untuk dapat menentukan kebutuhan pelatihan kerja secara tepat, memberikan tanggungjawab yang sesuai kepada karyawan sehingga dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik di masa yang akan datang serta untuk menetukan arah kebijakan dalam promosi jabatan atau penentuan imbalan.

2    Tujuan dan Sasaran Penialian/Evalauasi Kinerja
Menurut A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007:10) tujuan evaluasi kinerja adalah: “Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja organisai melalui peningkatan kinerja dari SDM organisasi. Secara lebih spesifik.”
Menurut Agus Sunyoto dalam A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007:10) tujuan evaluasi kinerja adalah sebagai berikut:
a.       Meningkatkan saling pengertian antara karyawan tentang persyaratan kerja
b.      Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk berbuat baik, atau sekurang-kurangnya berprestasi sama dengan prestasi yang terdahulu
c.       Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan aspirasinya dan meningkatkan kepedulian terhadap pekerjaan yang diemban sekarang
d.      Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga karyawan termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya
e.       Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan, khusus rencana diklat, dan kemudian menyetujui rencana itu jika tidak ada hal-hal yang perlu diubah
Sedangkan sasaran-sasaran dari evaluasi kinerja yang diungkapkan Agus Sunyoto adalah sebagai berikut:
a.       Membuat analisis kinerja dari waktu yang lalu secara berkesinambungan dan periodik, baik kinerja karyawan maupun organisai.
b.      Membuat evaluasi kebutuhan pelatihan dari para karyawanmelalui audit keterampilan dan pengetahuan sehingga dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Atas dasar evaluasi kebutuhan pelatihan itu dapat menyelenggarakan program pelatihan dengan tepat.
c.       Menentukan sasaran kinerja yagn akan datang dan memberikan tanggungjawab perorangan dan kelompok sehingga untuk periode selanjutnya jelas apa yang harus diperbuat oleh karyawan, mutu dan baku yang harus dicapai, sarana dan prasaran yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja karyawan
d.      Menemukan potensi karyawan yang berhak memperoleh promosi, dan kalau mendasarakan hasil diskusi antara karyawn dengan pimpinannya itu untuk menyusun suatu proposal mengenai sistem bijak (merit system) dan system promosi lainnya, seperti imbalan (yaitu reward system recommendation).
3    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pencapaian Kinerja
Menurut Keith Davis dalam A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007:13) terdapat dua faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:
1.          Faktor Kemampuan (Ability)
        Secara psikologis, kemampuan (ability) terdiri dari kemapuan potensi (IQ) dan kemapuan reality (knowledge + skill)
        Artinya pemimpin dan karyawanmempunyai IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) apalagi IQ superior, very superior, gifted dan genius dengan pendidikan yang memadai untuk jabatan yang terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah mecapai kinerja maksimal.
2.          Faktor Motivasi
        Motivasi diartikan suatu sikap (attitude) pemimpin dan karyawanterhadap situasi kerja (situation) di lingkungan organisainya. Mereka yang bersikap positif (pro) terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja tinggi dan sebaliknya jika mereka bersikap negatif (kontra) terhadap situasi kerjanya akan menunjukan motivasi kerja yang rendah. Situasi kerja dimaksud mencakup antara lain hubungan kerja, fasilitas kerja, iklim kerja, kebijakan pemimpin, pola kepemimpinan dan kondisi kerja.
Human Performance     = Abiliity x Motivation
Motivation                      = Attitude x Situation
Ability                                                                             = Knowledge x Skill
Sedangakan menurut Hennry Simamora dalam A. A. Anwar Prabu Mangkunegara (2007:14) kinerja (performance) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a.                Faktor individu, yang terdiri dari
1.               Kemampuan dan keahlian
2.               Latar Belakang
3.               Demografi
b.               Faktor Psikologis, yang terdiri dari
1.               Persepsi
2.               Attitude
3.               Personality
4.               Pembelajaran
5.               motivasi
c.                Faktor Organisasi, yang terdiri dari:
1.               Sumberdaya
2.               Kepemimpinan
3.               Penghargaan
4.               Struktur
5.               Job Design

4  Kriteria Penilaian Kinerja
Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2002:94), terdapat beberap unsur yang dapat dinilai dalam kinerja, yaitu:
1.      Kesetiaan
Dicerminkan oleh kesetiaan karyawan menjaga dan membela organisai di dalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggungjawab
2.      Prestasi Kerja
Menilai hasil kerja, baik kualitas maupun kuantitas yang dapat dihasilakn oleh karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya
3.      Kejujuran
Menilai kejujuran dalam melaksakan tugas-tuganya memenuhi perjanjian, baik bagi dirinya sendiri maupaun terhadap orang lain, seperti kepada bawahannnya.
4.      Kedisiplinan
Menilai disiplin karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang diberikan kepadanya
5.      Kreativitas
Menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan kreativitasnya untuk menyelasaikan pekerjaannya, sehingga bekerja lebih berdaya guna dan berhasil guna
6.      Kerja Sama
Menilai kesediaan karyawan berpartisipasi dan bekrja sama dengan karyawan lainnya, vertikal atau horizontal, di dalam maupun di luar pekrejaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik
7.      Kepemimpinan
Menilai kemapuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai pribadi yang kuat, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawhannya untuk bekerja secara efektif.


8.      Kepribadian
Menilai sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai, memberi kesan menyenangkan, memeperlihatkan sikap baik, dan penampilan yang  simpatik serta wajar dari karyawan tersebut.
9.      Prakarsa
Menilai kemampuan berfikir secara orisinal dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk menganalisa, menilai, menciptakan, memberi alasan, mendapatkan kesimpulan, dan membuat keputusan penyelesaian masalah yang dihadapinya.
10.  Kecakapan
Menilai kecakapan karyawan dalam menyatukan dan menyelaraskan bermacam-macam elemen yang semuanya terlibat dalam penysusunan kebijaksanaan dan di dalam situasi manajeman.
11.  Tanggungjawab
Menilai kesediaan karyawan dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang dapat dipergunakannya, perilaku serta hasil kerja dari bawahannya.

Perangkat Lunak


Berikut  ini  akan  diuraikan  secara  ringkas  kemampuan  kedua  perangkat  lunak tersebut.
a.   Arc GIS 9
Struktur data ArcGIS  adalah  vektor.  Dengan   demikian   akan   memiliki beberapa  kelebihan,  yaitu  baik  dalam  presentasi,  peragaan  grafik  lebih akurat,   struktur   data   kompak,   dan   topologi   dapat   dijelaskan   dengan jaringan keterkaitan.
Kemampuan   ArcGIS meliputi   analisis   spasial   (seperti   superimpose   dan buffering) dan modellling. Dalam proses superimpose yang melibatkan dua atau  lebih  data  Spasial,  atribut  dari  data  Spasial-data  Spasial  yang  di- superimpose-kan  tersebut  tetap  tercatat  dalam  data  basenya.  Dengan demikian akan mempermudah kita dalam mengidentifikasi atribut suatu poligon   hasil   superimpose   tersebut.   Dengan   kata   lain   topologi   hasil superimpose tersebut dapat diidentifikasi dengan mudah melalui jaringan keterkaitan.
Kemampuan lainnya, misalnya dalam penentuan jarak batas sempadan sungai dan penetuan wilayah pelayanan suatu fasilitas, dapat dengan mudah dilakukan dengan proses buffering. Selain itu, kita dapat melakukan analisis model kesesuaian lahan dengan menggunakan operasi pertampalan. Kemampuan mengakses image (citra), mengakses secara langsung data base terhubung  (relational  database),  menampilkan  grafik/tabel  (chart),  text dan  film,   serta  melakukan  proses  analisis  dengan  operasi  logika  dan
‘manipulasi  data  tabular’,            dan  juga  dapat  melakukan  editing  data  grafis dan  data  tabular.  Serta dilengkapi dengan kemampuan analisis keruangan seperti spatial analisis, 3D analisis, Geostatitical analisis, Tracking analisis, survey analisis, dan lain-lain.
b.   Arc View
Arc View merupakan suatu program Sitem Informasi Geografis dimana data dari Arc Info (Coverage) dapat  langsung  diakses.  Kemampuan  Arc  View meliputi kemampuan mengakses image (citra), mengakses secara langsung data   base   terhubung   (relational   database),   menampilkan   grafik/tabel (chart),  melakukan  proses  analisis  dengan  operasi  logika  dan  ‘manipulasi data  tabular’,  dan  juga  dapat  melakukan  editing  data  Spasial  dan  data tabular.
 Arc  View  juga  memiliki  fasilitas  Avenue,  yaitu  bahasa  program  yang dikembangkan  untuk  lingkungan  Arc  View,  dimana  kita  dapat  membuat program tampilan (Graphic User’s Interface Display) yang berorientasi objek untuk mempermudah pemakai dalam pengaksesan data.
c.   ArcObject
Digunakan untuk membuat kustemisasi/tampilan untuk  memasukkan  data tabular. Data ini   disebut   sebagai   data   atribut yang   kemudian   dapat dipersatukan dengan data spasial.


     

Pendekatan Pengembangan Program SIG



Untuk penanganan persoalan penyediaan  informasi  yang  sesuai,  pendekatan yang digunakan adalah komputerisasi informasi yang tersedia dengan program SIG. Secara garis besar, pendekatan untuk penyusunan program Sistem Informasi Geografis ini adalah sebagai berikut :
1    Komponen Dasar SIG
Komponen dasar yang akan membentuk Sistem Informasi Geografis Kabupaten Bogor Berbasis Program Aplikasi ArcGIS secara garis besar dapat dikelompokkan  menjadi  dua  bagian  besar,  yaitu  database  peta  (Spasial)  dan database atribut (non Spasial).
a.                     Data Base Peta
Database peta dalam Program Sistem Informasi Geografis akan meliputi :
1)   Peta Dasar Wilayah Kabupaten Bogor yang meliputi jaringan jalan, garis kontur, jaringan sungai, batas administrasi, dan lain-lain.
2)  Peta Tata Ruang Kabupaten Bogor.
3)   Peta Jaringan Prasarana Wilayah yang meliputi air bersih, drainase, air limbah, dan persampahan serta prasarana wilayah penunjang lainnya.
4)  Peta Kawasan Perumahan dan Permukiman
5)   Peta Tematis Sektor Terkait; meliputi peta penggunaan lahan, geologi, hidrologi, kemampuan tanah, peta rencana tata ruang, dan lain-lain.

b.                     Data Base Non-Spasial (Data Atribut)
Data  atribut  ini  merupakan  data  yang  menjelaskan  dan  merupakan  data terhubung  dengan  data  Spasial/peta  yang  bersangkutan.  Data ini akan meliputi informasi yang berkaitan     dengan            substansi    kegiatan           yang dilaksanakan oleh Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Bogor yang terkait yang meliputi : kondisi dan permasalahan tata ruang kawasan, kondisi dan permasalahan prasarana wilayah, kondisi dan permasalahan perumahan dan permukiman, dan lain-lain.
Dari komponen-komponen pembentuk SIG tersebut, selanjutnya dibuat program aplikasinya.  Pemanfaatan  program  aplikasi  yang  akan  dibuat tersebut diarahkan untuk aplikasi  utama yang  berkaitan  dengan substansi kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Bogor.

Gambar 2.5
Pendekatan Pengembangan Program Aplikasi
Sistem Informasi Geografis
Kabupaten Bogor Berbasis Program Aplikasi Arcgis

2    Pembangunan basis data Spasial,
Pembangunan basis data Spasial, yaitu pemasukan informasi Spasial ke Dalam peta dasar  yang  telah  disiapkan.  Data  yang  dimasukkan  antara lain kondisi fisik dasar, penggunaan lahan, prasarana wilayah, dan lain- lain  yang  terkait  dengan  tugas  pokok  dan  fungsi  yang  diemban  oleh Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Bogor.
Pembangunan basis data spasial digital dimaksudkan untuk menyiapkan data spasial dalam format digital yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya untuk bahan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan pengendalian pembangunan. Pada pelaksanaannya pekerjaan ini meliputi kegiatan berikut :
1             Digitalisasi Data Spasial Eksisting
Digitalisasi data spasial eksisting dimaksudkan agar data spasial yang telah ada dan tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan dapat diintegrasikan dengan data spasial baru. Secara garis besar tahapan pekerjaan seperti diperlihatkan pada Gambar 2.6, meliputi :
<        Identifikasi data eksisting
Identifikasi data eksisting  dimaksudkan  untuk  mengetahui kondisi   dan   keberadaan   data   dan   informasi   spasial   di lingkungan   Pemerintah   Daerah. Dalam   hal   ini   dilakukan pengumpulan informasi tentang keberadaan peta dasar yang ada, skala peta, sistem peta dan kelembagaan yang menjadi pemilik dan pemelihara data tersebut (custodianship).
Berdasarkan        pengalaman menangani pekerjaan fisik, dapat diindikasikan bahwa beberapa Dinas/Instansi teknis telah memiliki dan menggunakan  peta untuk keperluan operasional kegiataannya. Namun demikian, kondisi data spasial (peta) yang ada pada tiap Dinas/Instansi tersebut biasanya mempunyai tingkat kedalaman yang berbeda dan dengan sistem pemetaan yang berbeda pula. Disamping itu juga terdapat beberapa jenis peta yang berasal dari kegiatan penataan ruang.
<        Kompilasi dan seleksi data
Data spasial yang telah terkumpul, selanjutnya dilakukan kontrol kualitas dan seleksi data. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara tingkat ketelitian dan kekonsistenan data.
<        Penyusunan tema (layerisasi)
Layerisasi merupakan tahap pengelompokan unsur-unsur data spasial sesuai dengan temanya masing-masing. Dalam melakukan pengelompokan perlu diperhatikan juga mengenai jenis  unsure (feature)  dari  setiap  objek  karena  satu  jenis objek  yang  memiliki  tema  yang  sama  tetapi  mempunyai feature  yang  berbeda,  misalnya  objek  dengan  tema  sungai dapat  digambarkan  sebagai  unsur  garis  (line)  atau  luasan (area). Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan pembagian tema menjadi tema sungai_garis dan sungai_area.
<        Digitasi
Digitasi merupakan proses konversi data dari data analog (hardcopy)   menjadi   data   digital   dengan   memakai   media perantara (meja  digitasi).  Unsur  titik, garis,  dan  area  yang membentuk peta dikonversikan menjadi nilai koordinat (x,y) dimana unsur titik pada peta diwakili oleh sebuah koordinat (x,y), unsur garis diwakili oleh sederetan koordinat (x,y) yang berhubungan,  dan  unsur  area  diwakili  oleh  satu  atau  lebih garis yang membentuk luasan dan sebuah label point.
<        Check Plot dan Editing
Check  plot  merupakan  proses  membandingkan  data  digital hasil  digitasi  dengan  peta  sumbernya. Sedangkan editing merupakan   proses   perbaikan   kesalahan   pada   data   hasil digitasi.   Dalam   tahap   ini   terdapat   dua   hal   yang   perlu diperhatikan, yaitu ketepatan posisi unsure yang didigit dan kelengkapan unsurnya.
<        Transformasi Koordinat
Transformasi koordinat mempunyai pengertian perubahan sistem koordinat, yaitu perubahan dari suatu sistem asal ke sistem yang diinginkan. Transformasi disini bertujuan agar sistem   koordinat   yang   dipakai   dalam   Basis   Data   Spasial mempunyai suatu sistem tertentu yang baku dan berlaku secara universal, misalnya UTM (UniversalTransverse Mercator).
<        Pembuatan Topologi dan Kodifikasi
Topologi adalah suatu  bentuk atau model  matematik  yang digunakan  dalam SIG untuk menyatakan hubungan  spasial antar unsur grafis. Dengan adanya topologi, hubungan antar unsur dapat diketahui apakah  berhubungan (connectivity), berbatasan/bersebelahan (adjacency), berpotongan (intersection), atau berdekatan (proximity).
Kodifikasi  merupakan  proses  pemberian  kode  (identifier)  untuk setiap unsur grafis. Dimana kode ini harus merupakan nilai yang unik untuk setiap unsur spasial dan berfungsi sebagai penghubung dengan data atribut.


Gambar 2.6
Digitalisasi Data Spasial Eksisting


<        Penyimpanan
Data spasial yang telah didigitalisasi selanjutnya disimpan sebagai bagian  dari basis data daerah yang siap diintegrasikan dengan data spasial baru yang akan dibangun dan siap dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang mendukung pembangunan daerah.
2             Penyusunan data atribut
yaitu  pemasukan informasi  ke dalam file basis data yang telah disiapkan dengan memperhatikan jenis, kedalaman, dan  interval  data,  dan  memeriksa  keterhubungannya  dan ketelitiannya.
.3             Hubungan (linking) dan integrasi data Spasial dan data atribut
yaitu pengujian kesesuaian antara informasi Spasial dan informasi bukan Spasial (atribut). Informasi Spasial didigitasi langsung dalam format peta dengan kalibrasi sebaik mungkin, sementara informasi non-Spasial yang tersedia disusun dalam bentuk basisdata terhubung (relational database). Illustrasi linking dan integrasi  data  Spasial  dengan  data atribut dapat dilihat pada Gambar 2.7 berikut ini.
Gambar 2.7
Linking Dan Integrasi Data Spasial Dengan Data Atribut


4             Pemutakhiran dan perluasan data
Sehubungan  ada  kemungkinan  tidak  semua  data  ada  dan  kemungkinan terjadinya  perubahan  data  sejalan  dengan  perkembangan  yang  terjadi, maka pengembangan program Sistem Informasi Geografis  Kabupaten Bogor ini harus menyediakan  fasilitas yang memungkinkan adanya pemutakhiran dan perluasan data. Selain itu, juga dilengkapi dengan petunjuk prosedur pemutakhiran dan perluasan data. Dengan demikian, Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman Kabupaten Bogor dapat melakukan perluasan dan pemutakhiran data sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

Gambar 2.8
Kemampuan Pemuktahiran Dan Perluasan Data



Sistem Informasi Manajemen


Sistem informasi adalah sistem manusia dan mesin. Dalam perancangan suatu sistem informasi manajemen cenderung mengikat erat pengambilan keputusan pada sistem mengelola mesin. Dan fungsi kerja administrasi dilaksanakan secara tertentu berdasarkan persyaratan komputer. Karena itu manusia adalah elemen penting dalam sistem pengolahan informasi. Dan juga dalam pemahaman kemampuan manusia sebagai pengeola informasi adalah penting bagi perancangan sistem informasi.
Maka itu tujuan dibentuknya sistem informasi manajemen adalah agar organisasi memiliki suatu sistem yang diandalkan dalam mengolah data menjadi informasi dan bermanfaat bagi pembuat keputusan. Sistem informasi manajemen adalah suatu sistem yang meyediakan kepada pengolah organisasi data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Sistem informasi manajemen diharapkan dapat menunjang tugas-tugas para pegawi di suatu organisasi dan pengguna jasa organisasi beserta unsur pokok yang terdapat dalam lingkungan otoritas organisasi.
Walaupun begitu sebuah sistem informasi manajemen mengandung elemen-elemen fisik sebagi berikut:
  1. Perangkat keras Komputer
  2. Perangkat lunak
a.       Perangkat lunak sistem umum
b.      Perangkat lunak terapan umum
c.       Perangkat aplikasi
  1. 16
     
    Data base (data yang tersimpan dalam media penyimpan komputer)
4.      Petugas pengoperasian.
(Gordon B. Davis, 1999:15-16)
Selanjutnya menurut Robert G. Murdick dan Joel E. Ross dalam Onong Uchjana Effendy (1989:109) mendefinisikan SIM sebagai : “….proses komunikasi dimana informasi masukan (input) direkam, simpan dan diperoleh kembali (diperoleh) bagi keputusan (output) mengenai perencanaan, pengoperasian, dan pengawasan”.

Definisi lain tentang sistem informasi menurut Lucas dalam Wahyudi Kumorotomo dan Subando Agus Margono (1996:14), mengatakan bahwa “sistem informasi adalah sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat dilaksanakan akan memberikan informasi bagi pengambilan keputusan dan atau untuk mengendalikan orgnaisasi”. Definisi lain pada dasarnya menekankan bahwa informasi merupakan alat untuk mengurangi ketidak pastian yang akan senantiasa dihadapi oleh seorang pucuk pimpinan yang memimpin organisasi. Asumsinya adalah bahwa anggota-anggota organisasi hendaknya lebih terbuka terhadap informasi yang datangnya dari dalam sistem organisasi maupun dari luar.
Sedangkan menurut George M. Scott (1997:100) Sistem Informasi Manjemen  adalah “Serangkaian sub-sitem informasi yang menyeluruh dan terkoordiinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformnasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar mutu yang telah ditetapkan”.

Dari definisi di atas dapat dilihat hal-hal yang menjadi substansi dari Sistem Informasi Manajemen, yaitu:
1.          Memiliki sub sistem informasi
Sistem Informasi Manajemen adalah serangkaian sub-sistem, atau sistem komponen setengah terpisah yang merupakan bagian dari keseluruhan dan merupakan sistem yang terpadu.
2.          Menyeluruh
Kata “Manajemen” dalam SIM adalah serba melingkupi. Di dalam SIM termasuk sistem peprosesan transakai dan sistem-sistem yang utama dirancang bagi para manajer di berbagai tingkatan.
3.          Terkoordinasi
Komponen sebuah Sistem Informasi Manjemen biasanya tidak dikelola satu titik pusat organisasi; ada berbagai departemen pengguna, departemen pemproses data, dan mungkin fungsi pengolah data yang terpisah, banhkan yang lain-lainnya mungkin memiliki hak atas bagian tertentu dari Sistem Informasi Manajemen.
4.          Mentransformasikan data ke dalam informasi
Apabila data diolah dan berguna bagi manajer tertentu untuk tujuan tertentu, maka ia menjadi informasi. Ada berbagai cara di mana data harus ditrasformasikan ke dalam sebuah sistem informasi. Misalnya data biaya untuk organisasi tertentu mungkin dapat diringkaskan dalam biaya keseluruhan, biaya variabel, dan biaya standar untuk masing-masing unit organisasi, baik masing-masing jenis biaya, jenis konsumen, dan jalur, produk (product line).
5.          Meningkatkan produktivitas
SIM dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas. SIM mampu melaksanakan tugas rutin seperti penyiapan dokukmen dengan efisien, ia mampu memberikan layanan peringatan dini tentang masalah internal dan eksternal
6.          Sesuai dengan sifat dan gaya manajer
Suatu SIM dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manjerial dari personil yang akan menggunakannya termasuk juga sumbangan yang diberikan oleh para manajer.
7.          Menggunakan kriteria mutu yang telah ditetapkan
Sebuah sistem informasi harus dirancang agar sesuai dengan toleransi terhadap kecepatan, relevan, dan ketepatan informasi. Toleransi ini bervariasi dari satu tugas ke tugas lainnya, dan dari satu lapis ke lapis lainnya di dalam orgnainsasi. Terhadap kecepatan, untuk beberapa tugas tertentu data yang diperlukan harus dicari selama waktu yang panjang dan kemudian ditransformasikan sehingga menjadi informasi yang diperlukan manjer baik secara periodik ataupun pada selang waktu tak teratur, tetapi karena panjangnya periode tunda (grace periode) memungkinkan untuk dilaporkan setelah selesainya akhir suatu perode. Untuk tugas yang lain lagi, mungkin informasi manajemen diperlukan secepat mungkin segera setelah berakhirnya periode, dan untuk kebanyakan tugas informasi harus diperoleh selama periode berlangsungnya transaksi.
Sebuah sistem informasi harus mampu memberikan informasi yang relevan saja. Menetapka informasi manakah yang relevan mungkin sulit disaat analisis berlangsung dengan sangat bervariasi untuk setiap manajaer yang berbeda, atau sesuai dengan keadaan. Untuk itu sistem informasi manajemen harus bersifat luwes sehingga mampu memasok dengan cepat informasi apapun yang diperlukan.
Sebuah sistem informasi harus tepat dalam pengertian  konsisten dengan informasi yang diberikan oleh bagian-bagian lain. Sifat mutu juga sangat penting. Sebuah sistem informasi harus mampu memeberikan umpan-balik (feed-back) tentang efisiensi dan efektivitasnya. Umpan balik harus tetap canggih sehingga dapat menunjukan bagaimana sistem informasi manajemen menyelesaikan tujuan yang dimaksudkan. Sistem informasi manjemen juga harus mampu mengadaptasi tanggapan atas umpan-balik kinerjanya.
Maka dalam prosesnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi, manajemen sebagai total sistem selain dipengaruhi oleh sub sistem juga oleh supra sistem yaitu faktor-faktor yang diluar manajemen yang kuat pengaruh dampaknya. Untuk itulah perlunya informasi yang harus dikelola secara sistematis, efektif dan efisien dari pucuk pimpinan ke bawah secara timbal balik, tapi juga ke luar organisasi secara timbal balik.
Pada garis besarnya Sistem Informasi Manajemen dapat dibagi empat tingkatan yang dilukiskan dalam piramida bertingkat pada gambar di bawah ini.








Gambar 2.1
Sistem Informasi Manajemen
Gambar diatas menjelaskan di mana lapisan dasarnya terdiri dari informasi untuk pengolahan transaksi, pengolahan status, dan sebagainya; lapisan berikutnya terdiri dari sumber-sumber informasi dalam mendukung operasional manajemen sehari-hari; lapisan ketiga terdiri dari sumber daya sistem informasi untuk membantu perencanaan taktis dan pengambilan keputusan untuk pengendalian manajemen; dan lapisan puncak terdiri dari sumberdaya informasi untuk mendukung perencanaan dan perumusan kebijakan oleh tingkat puncak pimpina manajemen.
Data Base Bangunan/Gedung Pemerintah  tentunya harus berpedoman pada suatu sistem dan mekanisme yang telah ditetapkan atau telah baku, dalam hal ini adalah Tugas Pokok dan Fungsi Dinas serta prosedur standar dalam melakukan kegiatan.

2.2       Terminologi Sistem Informasi Geografis

2.2.1    Konsep Dasar
Geografic Information System (GIS)  merupakan  sistem  komputer  yang  mampu  memproses  dan  menggunakan data  yang  menjelaskan  tentang  tempat  pada  perumukaan  bumi.  Lebih  lanjut GIS  didefinisikan  sebagai  sekumpulan  alat  yang  terorganisir  yang  meliputi hardware,  software,  data  geografis  dan  manusia  yang  sumuanya  dirancang secara  efisien  untuk  dapat  melihat,  menyimpan,  memperbaharui,  mengolah dan  menyajikan  semua  bentuk  informasi  bereferensi  geografis  (ESRI,  1994). Selanjutnya GIS pada dasarnya dibuat untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis obyek serta fenomena yang posisi geografisnya merupakan karakteristik yang penting untuk di analisis (Stan Aronoff, 1989).
Gambar 2.1










Dari definisi ini, GIS jelas mempunyai karakteristik sebagai perangkat pengelola basis data (Database  Management  System),  sebagai  perangkat  analisa keruangan   (spatial   analysis)   dan   juga   sekaligus   proses   komunikasi   untuk pengambilan keputusan.
Keunikan  GIS  jika  dibanding  dengan  sistem  pengelola  basis  data  yang  lain adalah  kemampuan  untuk  menyajikan  informasi  spatial  maupun  non-spatial secara  bersama.  Sebagai  contoh  data  GIS  penggunaan  lahan  dapat  disajikan dalam  bentuk  luasan  yang  masing-masing  mempunyai  atribut  penjelasan  baik itu  tabuler,  text,  angka,  maupun  image  file.  Informasi yang  berlainan tema disajikan dalam lapisan (layer) informasi yang berlainan.
Tiga tugas utama yang diharapkan dari sistem informasi geografis adalah :
1.  Penyimpanan, menajemen, dan integrasi data spasial dalam jumlah besar.
2.  Kemampuan   dalam   analisis   yang   berhubungan   secara   spesifik   dengan komponen data geografis.
3.  Mengorganisasikan dan mengatur data dalam jumlah besar, sehingga informasi tersebut dapat digunakan semua pemakainya.
Lebih sederhana lagi GIS mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai database sistem dan sebagai alat analisis dan modeling yang berkaitan dengan informasi geografis.
Keuntungan dari pemanfaatan GIS :
§  Data lebih aman dan tersusun lebih baik
§  Tumpang tindih data dapat dihilangkan
§  Perbaikan/updating data menjadi lebih mudah dan cepat;
§  Data mudah disimpan, dicari, (querry) dianalisis, dan disajikan.
·         Data   pada   organisasi (pemerintah   daerah) menjadi terpadu; sehingga tingkat produktivitas karyawan meningkat
Lebih  spesifik  lagi  kegunaan  GIS  berkaitan  dengan  pengelolaan  kota  (urban management) adalah; sebagai DSS (Division Support System), yaitu sebagai alat pengambilan  keputusan  bagi  aparat  pengelola  dan  pembangunan  kota  seperti Bupati/Walikota, Dinas Tata Bangunan dan Pemukiman dan Dinas-dinas Sektoral.
Kerangka  input/output  data/informasi  dalam  SIG  dapat  dilihat  pada  Gambar 2.3 berikut. Data input yang dapat dimasukkan dalam SIG adalah peta analog yang  didigitasi,  image/citra (citra  satelit,  poto  udara)  yang  merupakan  data spasial.  Sedangkan data atribut dapat  berupa  data  laporan  statistik  yang terkaitan dengan data spasial yang dapat berupa data tabular dan tekstual, dan juga dapat mengakses/linking dengan database management sistem yang sudah ada dengan syarat ada item relasinya.
Sedangkan  data  output  yang  dapat  dikeluarkan  oleh  SIG  dapat  berupa  hasil analisis  spasial  berupa  peta,  laporan  statistik,  analisis  statistik  yang  secara otomatis dapat dipetakan dalam data spasialnya, dan dapat dijadikan sebagai data input bagi database management system.
Dari   definisi   tersebut   diatas,   GIS   jelas   mempunyai   karakteristik   sebagai perangkat pengelola basis data (Database Management System / DBMS), sebagai perangkat analisa   keruangan (spatial   analysis)   dan   juga   sekaligus   proses komunikasi untuk pengambilan keputusan. Lebih sederhana lagi GIS mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebagai databasesystem dan sebagai alat analisis dan modeling yang berkaitan dengan informasi geografis.
Gambar 2.3

2.2.2    Subsystem GIS
Berdasarkan definisi-definisi di  atas, maka  GIS dapat  diuraikan  menjadi beberapa subsistem, yaitu :
1.      Data Input                     :     Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan atribut  dari berbagai sumber.  Subsistem ini pula yang bertanggungjawab dalam mengkonversi atau mentransformasikan format-format data-data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh GIS.
2.       Data Output                  :     Subsitem ini menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy seperti: table, grafik, peta, dll.
3.       Data Management        :     Subsistem ini mengorganisaikan baik dataspasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikianrupa sehingga mudah dipanggil, diupdate dan diedit.
4.       Data Manipulation & Analysis         : Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilakn oleh GIS. Selain itu, sub sitem ini juga melakukan manipulasi dan permodelan datauntuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

GAMBAR 2.4
SUBSISTEM SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (GIS)

Selasa, 21 Juni 2011

SI BOTAK ADU JOTOS



  Oleh Danu Suryani  ...>Satu cerita untuk KUPU-KUPU SEGALA MUSIM
Aku dan saudara-saudara ku adalah mahluk kecil yang bisa terus hidup apabila menemukan pasangan beberapa detik, jam atau hari setelah kami dikeluarkan dari satu tempat….? Untuk langsung dimasukan pada satu tempat lainnya ….?. maka ditempat kedua itulah kami dituntut  menemukan pasangan. Tidak mudah menemukan pasangan selain bersaing dengan ratusan, ribuan atau bahkan jutaan saudara kami sendiri, kami pun dihadapkan pada satu masalah bahwa jumlah calon pasangan kami lebih sedikit dari jumlah kami, atau bahkan sekalipun kami berhasil menemukan pasangan, itu belum tentu kami bisa terus hidup dan melakukan evolusi karena keadaan lingkungan alam yang ada.
            Setelah perpindahan atau perpaduan itu dan proses perjuangan yang amat sangat berat, akhirnya aku dan satu orang sauadra ku berhasil hidup dan berevolusi, sementara jutaan saudaraku harus gugur mati menjadi darah merah yang akhirnya keluar menembus hutan rumput menuju kasur empuk.
            Hari ini tepat 28 minggu aku dan satu orang saudaraku hidup setelah yang lain mati. Hari ini aku melihat ibuku mandi namun mandi kali ini lain dari biasanya, ia mandi dengan bunga-bunga, Kuhitung ada 7 atau 9 jenis bunga dalam bak mandinya.
            Bila aku bisa lihat matahari, aku  mungkin bisa memperkirakan ini jam berapa, tapi aku tidak bisa, bahkan bentuk mataharipun aku tidak tau seperti apa?.  Tapi apa yang sedang dibicarakan Ayah dan Ibu saat ini? Aku nguping ah’.
Ayah    : “Bu’ Bapak bingung jadi Hansip di kampung ini, apalagi setelah muncul isu-isu brondong eh salah grondong, yang katanya sering makan bayi kembar yang lahir pertama, Bapak harus jaga tiap malem, mana ampe sekarang gaji tidak naik-naik” (Ucap Ayah sambil garuk-garukk kepala).
Ibu       : “Sabar ya Pak, rejeki bukan manusia yang ngatur, jadi percuma bapak membingungkan hal itu, karena Allah yang punya kuasa atas segalanya. Jadi coba mengadu sama Allah” (jawab ibu sambil mengusap perutnya yang gendut).
            Aku berfikir sejenak, lalu aku diskusikan hal ini dengan saudaraku:
Aku      : “Hai saudaraku!” (sambil ku  tepuk kepala botaknya).
Saudaraku: “Ada apa sih loe Colek-colek gue? (dengan muka sewot karena ku tepuk pala botaknya)
Aku      : “ loe ga’ denger tadi bokap kita bilang apa?
Saudaraku: “engga tuch, emang gue fikirin, paling juga bilang ‘jangan lupa minum cucu cantik’ iya kan.”
Aku      : “eh, ini kasus serius, kita hidup udah hampir 9 bulan yang artinya kita akan keluar dari sini”.
Saudaraku: “lalu kenapa, bukannya kamu pengen cepet-cepet lihat matahari?”.
Aku      : “yang jadi masalah sekarang di luar sana ada grondong pemakan bayi kembar, dan yang diambil adalah bayi yang keluar pertama. Gua ngeri Ihhhhhh…………………….!”.
Saudaraku: “emang iye, Sumpe loe?”
Aku      : “Iya sweeerrrr……..er,er,er. Asli deh gua g boong”.
Saudaraku: “ nah gima atuh? yang pasti gua ga mau keluar duluan”
Aku: “Aku juga tidak mau keluar duluan, kamu aja duluan!!!!!!!”
Saudaraku: “kamu aja!!!”
Aku      : “kamu!!!”
Aku dan saudarakupun berantem, aku tendang pantatnya, aku semekdown dan aku hajar mukanya. Dia balas dengan menggigit jempol kakiku aku bukan sakit tapi malah geli karena giginya belum numbuh. Aku tidak mau kalah aku jambak rambutnya (duh aku lupa dia itu kan masih botak). Duh dasar botak dia balas degan membuang angin depan mukaku.
Kami  berhenti dan terdiam ketika kami dengar ibu teriak kesakitan gara-gara ulah kami.
Ibu       : “Aduh Pa’ sakit, bayinya nendang-nendang, mungkin udah saatnya keluar”. (lalu ayah membawa ibu ke bidan dgn menggunakan becak)
Di tengah perjalanan kami menggerutu kompak, berkata (“siapa juga yang mau keluar, kami justru takut keluar”), lalu terjadi lagi perdebatan dan perkelahian antara aku dan saudaraku.
Aku      : “Semua ini garara kamu, kita jadi dibawa ke bidan, nanti kalo bidannya itu jadi grondong gimana?”
Saudaraku: “Aeh-aeh, si laing nyalahkeun saya nya, pie sampean iki? Sampean sing pukul aku duluan, (dia bicara sambil menyuntrungkan kepala ku)”.
Aku      :Eh teu kitu, don’t forget, kamu yang nantang aku duluan, dasar botak! (aku lupa aku juga botak)
Saudaku : “what do you mong? Awas nya ku aing cakar muka kau nanti! biar muka kau jadi jelek”.
Aku dengar tukang becak bilang “udah sampe paak/bu!”. (Wah ibu masih aja teriak kesakitan, ah mungkin gara-gara aku dan saudaraku nih ga bisa diem, aku harus bisa bernegosasi untuk berkolaborasi dengan musuhku ini).
Aku      : “ Eh saudaraku tadi kau dengar tukang beca bilang ini udah sampe klinik bidan, kita harus diam agar ibu tidak kesakitan dan tidak mengira kita mau keluar.
Saudaraku: “ok diterima! Tapi aku tidak mau keluar duluan”.
Aku      : “ sama aku juga, Itu kita bahas nanti”.
Akhirnya ibu dapat panggilan untuk diperiksa, namun karena kami sepakat untuk tidak melakukan aktifitas apapun, sang bidanpun mengambil kesimpulan bahwa kami belum saatnya keluar meskipun umur kandungannya udah sampai 9 bulan.
Kami teriak kegirangan, serempak kami berucap Yes, Yeasss, Yesssssssssssssss!!!!!!!!!!! (Sambui ajol-ajolan) karena kami bersyukur bu bidan tidak jadi keluarkan kami dari dunia yang kami rasa mulai sempit ini. Namun karena gerakan kami ini, Ibu  jadi merasa kesakitan lagi,... 
Ibu:  Bu Bidan sakit bu... sepertinya ni udah mau keluar,...
(kami panik) kami ga mau keluar, tanpa ada obrolan kami serempak diam) sampai akhirnya Bu Bidan kembali memeriksa dan menyatakan belum saatnya.
Malam harinya aku dengar Ayah bicara pada Ibu:
Ayah: “Bu mau dikasih nama apa anak kita nanti?
Ibu : “Rohmah atau Rohim”
Ayah: “ Bagus juga bu’’
Saat kami dengar masalah nama itu, kami bingung dua nama yang disediakan oleh orang tua kami satu cewe satu lagi cowo sedangkan kami disini cewe semua, aduh gimana ini sepertinya aku harus keluar duluan, apalagi setelah sebelumnya kami deengar grondong sudah mati karena film misteri gunung merapi sudah tamat (The and). akhirnya seperti biasa kami debat dan akhirnya adu jotos untuk memperebutkan siapa yang keluar duluan,. Karena memperebutkan nama, meski banyak orang bilang “apalah artinya sebuah nama”, tapi apa iya aku harus rela, aku diberi nama Rohim padahal aku ini adalah wanita,. Tak sudi, aku tak sudi, ....tak sudi tak…, sungguh tak sudi tak!. Sampai titik darah penghanbisan akan perjuangkan.
Maka seketika itu pula ibu teriak kesakitan dan kami terus berebutan berdeak-desakan ingin keluar duluan, saat saudara ku mendekati pintu keluar, aku tarik kaakinya, ku angkat kepala botaknya, tapi dagu ku di tendang, sakitnya, tapi aku jewer saja kupingnya, dan aku merangsak menuju pintu keluar, sedikit lagi saja, telingaku di tarik, sakittttt!!!!!!!!!!, aku kembali kedalam dan ku ikat tangannya dengan tali ari-arinya, tapi dia tetap menendang-nendang ku, dan diluar sana aku dengar ibu menjerit-jerit, serta suara seorang bidan yang mengulang kata-kata “Ayo bu’ ngeden, tarik napas dalam-dalam, ayo lebih kuat lagi bu!!!”. Di dalam aku masih bergulat dengan saudaraku, dasar botak gua duluan (teriak saudaraku sambil menendang aku yang akhirnya karena tendangannya itu aku terperosoooookkkkkk keluar’. Meski sewot karena sakit pantat ini ditendangnya, tapi aku ucap terimakasihhhhhh pada saudaraku itu.
Karena saudaraku sadar aku telah keluar duluan dia tetap beratahan didalam karena tidak mau diberi nama rohim, namun tidak lama kemudian serendak dengan jeritan ibu dalam hitungan 1,2,3 akhirnya Saudaraku Rohim keluar juga.
Setelah kami dimandikan, kami dibawa oleh suster menemui ibu tercinta yang masih terkapar lelah atas ulah kami,…, Bu jasamu tidak akan terbalas, sorga untukmu bu’ Amin…,
Ku dengar sang bidan bertanya pada Ayah dan Ibu:
Bidan: “mau diberi nama siapa anak-anak ini pak, bu?”.
Ayah: “sesuai kesepakatan kami bu bidan, kami akan memberi nama Rahmah, dan Rohim”.
Bidan: “tapi dua-duanya cewe pak, bu’’
Ibu: “bagaimana kalau Rohmah dan Rohimah Pa?”
Ayah: “Bagus tuh, Istri ku yang pintar dan paling cantik (Ayah ga’ tau malu, dia berkata seperti itu sambil menciumi Ibu)
Bidan: Y Sudah Pa’ silakan di adzanin dulu!!!
Allahuakbar…..Allahuakbar……… la’ Ilahaillallah.

To be continue!!!