http://www.facebook.com/danu.suryani/photos

DANU SURYANI

Get Gifs at CodemySpace.com

semoga bermanfaat, dan MOHON KOMENTARNYA !!!

semoga bermanfaat, & MOHON KOMENTARNYA !!!

Silahkan dilihat'.........

Kamis, 12 Januari 2012

Pengertian Efektivitas Kerja Pegawai


1 Efektivitas Organisasi
Sebelum menginjak pada teori yang mendasari penelitian tentang faktor – faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Propinsi Jawa Tengah, maka terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa pengertian organisasi.
Siagian (Indrawijaya, 1983:3) mengatakan bahwa organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan, dalam ikatan mana terdapat seorang/beberapa orang yang disebut bawahan. Sementara itu, Indrawijaya (1983:4) memberikan definisi yang sama bahwa organisasi dapat pula didefinisikan sebagai suatu himpunan interaksi manusia yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama yang terikat dalam suatu ketentuan yang telah disetujui bersama.
Katz dan Kahn (dalam Steers, 1985 : 135) mengatakan bahwa untuk memastikan keberhasilan akhir suatu organisasi harus dapat memenuhi tiga persyaratan perilaku penting yaitu :
1. Organisasi harus mampu membina dan mempertahankan suatu armada kerja yang mantap terdiri dari personil trampil.
2. Organisasi harus dapat menikmati prestasi peranan yang dapat diandalkan dari para personilnya, dalam hal ini setiap personil bukan saja dituntut untuk bersedia berkarya, tetapi juga harus melaksanakan tugas khusus yang menjadi tanggung jawab utamanya.
3. Para personil harus mengusahakan bertingkah laku yang spontan dan inovatif, dengan demikian setiap personil jangan hanya bertingkahlaku secara pasif saja.
Bila pendapat tersebut diperhatikan, maka syarat pertama yang diajukan berkisar pada masalah keterikatan pada organisasi, sedangkan persyaratan kedua dan ketiga berhubungan dengan tingkat dan kualitas prestasi kerja dalam organisasi. Aspek-aspek tersebut merupakan suatu proses yang didasarkan pada perilaku dan struktur organisasi dan kemudian diarahkan pada pencapaian hasil yang diinginkan.
Dari kacamata administrasi dan manajemen, dalam suatu organisasi selalu ada
seseorang atau beberapa orang yang bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan
sejumlah orang untuk bekerjasama dengan segala aktivitas dan fasilitasnya, dan
organisasi itu sendiri terdiri dari individu-individu dan kelompok karena efektivitas organisasi juga terdiri dari individu dan kelompok, tetapi efektivitas organisasi lebih sekedar penjumlahan efektivitas individu dan kelompok melalui efek sinergi, organisasi mendapatkan tingkat efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan penjumlahan bagian-bagiannya.
Berdasarkan Ensiklopedi Umum Administrasi, Efektivitas berasal dari kata
kerja Efektif, berarti terjadinya suatu akibat atau efek yang dikehendaki dalam perbuatan. Setiap pekerjaan yang efektif belum tentu efisien, karena mungkin hasil dicapai dengan penghamburan material, juga berupa pikiran, tenaga, waktu, maupun benda lainnya.
Kata efektivitas sering diikuti dengan kata efisiensi, dimana kedua kata tersebut sangat berhubungan dengan produktivitas dari suatu tindakan atau hasil
yang diinginkan. Suatu yang efektif belum tentu efisien, demikian juga sebaliknya
suatu yang efisien belum tentu efektif. Dengan demikian istilah efektif adalah melakukan pekerjaan yang benar dan sesuai serta dengan cara yang tepat untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan. Sedangkan efisien adalah hasil
dari usaha yang telah dicapai lebih besar dari usaha yang dilakukan.
Dari pengertian diatas, efektivitas dapat dikatakan sebagai keberhasilan pencapaian tujuan organisasi dari 2 (dua) sudut pandang. Sudut pandang pertama,
dari segi ‘hasil’ maka tujuan atau akibat yang dikehendaki telah tercapai. Kedua
dari segi ‘usaha’ yang telah ditempuh atau dilaksanakan telah tercapai, sesuai dengan yang ditentukan. Dengan demikian pengertian efektivitas dapat dikatakan sebagai taraf tercapainya suatu tujuan tertentu, baik ditinjau dari segi hasil, maupun segi usaha yang diukur dengan mutu, jumlah serta ketepatan waktu sesuai dengan prosedur dan ukuran–ukuran tertentu sebagaimana yang telah digariskan dalam peraturan yang telah ditetapkan.
Gibson et al. (1994:30) mengemukakan masing-masing tingkat efektivitas dapat dipandang sebagai suatu sebab variabel oleh variabel lain (ini berarti sebabefektivitas). Sesuai pendapat Gibson tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa  pada efektivitas individu terdiri dari sebab-sebab antara lain kemampuan, ketrampilan, pengetahuan, sikap, motivasi dan stress. Efektivitas kelompok terdiri dari sebabsebab keterpaduan, kepemimpinan, struktur, status, peran dan norma-norma untuk efektivitas organisasi terdiri dari sebab-sebab lingkungan, teknologi, pilihan strategi, struktur, proses dan kultur. Semua ini mempunyai hubungan sebab variabel dari variabel lainnya.
Efektivitas setiap organisasi sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia, karena
merupakan sumberdaya yang umum bagi semua organisasi. Kinerja organisasi tergantung dari kinerja individu, dan manajer/pimpinan harus mempunyai kemampuan lebih dari sekedar pengetahuan dalam hal penentuan kinerja individu.
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja dalam motivasi kerja yaitu motivasi kerja individu yang diakibatkan pada perubahan kerja, kemampuan kerja yaitu kemampuan individu dalam menghadapi pekerjaanya, suasana kerja yaitu suasana organisasi atas hubungan antar individu, lingkungan kerja yaitu lingkungan diluar organisasi yang memberikan pengaruh terhadap kerja individu, perlengkapan dan fasilitas yaitu peralatan yang dimiliki organisasi untuk dijalankan oleh individu dalam organisasi, prosedur kerja yaitu aturan-aturan yang diterapkan oleh organisasi kepada individu organisasi dalam melaksanakan kerjanya.
Terdapat 3 perspektif yang utama didalam menganalisis apa yang disebut efektivitas organisasi (Richard M. Steers, 1985;5-7), yaitu :
1. Perspektif optimalisasi tujuan, yaitu efektivitas dinilai menurut ukuran seberapa jauh suatu organisasi berhasil mencapai tujuan yang layak dicapai. Pemusatan perhatian pada tujuan yang layak dicapai secara optimal, memungkinkan dikenalinya secara jelas bermacam-macam tujuan yang sering saling bertentangan, sekaligus dapat diketahui beberapa hambatan dalam usaha mencapai tujuan.
2. Perspektif sistem, yaitu efektivitas organisasi dipandang dari keterpaduan berbagai faktor yang berhubungan mengikuti pola, input, konversi, output dan umpan balik, dan mengikutsertakan lingkungan sebagai faktor eksternal.
Dalam perspektif ini tujuan tidak diperlakukan sebagai suatu keadaan akhir yang statis, tetapi sebagai sesuatu yang dapat berubah dalam perjalanan waktu. Lagipula tercapainya tujuan-tujuan jangka pendek tertentu dapat diperlakukan sebagai input baru untuk penetapan selanjutnya. Jadi tujuan mengikuti suatu daur yang saling berhubungan antar komponen, baik factor yang berasal dari dalam (faktor internal), maupun faktor yang berasal dari luar (faktor eksternal).
3. Perspektif perilaku manusia, yaitu konsep efektivitas organisasi ditekankan pada perilaku orang-orang dalam organisasi yang mempengaruhi keberhasilan organisasi untuk periode jangka panjang. Disini dilakukan pengintegrasian antara tingkahlaku individu maupun kelompok sebagai unit analisis, dengan asumsi bahwa cara satu-satunya mencapai tujuan adalah melalui tingkahlaku orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Sementara itu, Moore (Sutarto, 1991:45) mengatakan bahwa faktor-faktor atau azaz-azas yang berpengaruh terhadap efektivitas organisasi yaitu (1) unit kerjaisasi, (2) rentangan control, (3) control, (4) kepemimpinan, (5) pendelegasian wewenang, (6) ide-ide bawahan, (7) motivasi dan (8) spesialisasi.
Robbins (1996 : 3) mengemukakan empat fungsi manajemen yang berpengaruh terhadap efektivitas organisasi, yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian. Perencanaan mencakup penetapan tujuan, penegakan strategi dan pengembangan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan. Pengorganisasian mencakup penetapan tugas-tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa dan dimana keputusan harus diambil.
Kepemimpinan mencakup hal motivasi bawahan, mengarahkan orang lain, enyeleksi saluran-saluran komunikasi yang paling efektif, dan memecahkan konflik-konflik. Pengendalian merupakan kegiatan-kegiatan untuk memastikan kegiatan itu dicapai sesuai dengan yang direncanakan dan mengoreksi setiap penyimpangan yang terjadi.
Gulick dan Urwick (Sutarto,1991:42) mengatakan bahwa faktor atau azas organisasi yang berpengaruh terhadap efektivitas organisasi yaitu (1) penempatan orang pada struktur, (2) kepemimpinan, (3) kesatuan perintah, (4) staf khusus dan umum, (5) unit kerjaisasi, (6) pelimpahan dan pemakaian azas pengecualian, (7) kesimbangan tanggung jawab dan wewenang serta (8) rentangan control.
Pendapat tersebut menggambarkan bahwa dalam penempatan seseorang dalam struktur organisasi harus benar-benar selektif, sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki, karena hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja seseorang dan produktivitas organisasi. Mengenai kepemimpinan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi efektivitas organisasi, karena kepemimpinan berkait dengan proses mempengaruhi dan menggerakkan seluruh anggota organisasi agar mereka bekerja  untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam organisasi juga perlu ada kesatuan perintah, karena tanpa adanya kesatuan perintah akan menimbulkan kebingungan, keraguan dan menimbulkan pula tidak jelasnya tanggung jawab.
Garis-garis satuan perintah harus jelas menunjukkan dari siapa saeseorang menerima perintah dan kepada siapa dia bertanggung jawab. Staf khusus dan umum diperlukan dalam organisasi karena pekerjaan dan aktivitas organisasi bermacam-macam jenisnya dan ada yang perlu penanganan secara khusus, yang memerlukan keahlian tertentu. Sedangkan unit kerjaisasi dilakukan karena dalam organisasi terdapat aktivitas untuk menyusun satuan–satuan organisasi yang akan diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu.
 Dengan pelimpahan setiap pejabat dari pucuk pimpinan sampai pejabat paling bawah memiliki wewenang tertentu dalam bidang tugasnya, sehingga tiap-tiap pekerjaan dapat diselesaikan pada jenjang yang tepat. Faktor keseimbangan diperhatikan, dimana satuan-satuan organisasi hendaknya ditempatkan pada struktur organisasi sesuai dengan perannya, satuan organisasi yang memiliki peranan sama penting ditempatkan pada jenjang organisasi yang setingkat. Sedangkan rentangan control dimaksudkan untuk menentukan jumlah bawahan langsung yang ideal yang dapat dipimpin dengan baik oleh seorang atasan tertentu.
Untuk lebih memahami pengertian efektivitas kerja pegawai, maka perlu kiranya menguraikan makna efektivitas kerja sebagai berikut:
Soewarno Handayaningrat (1994 : 16), mengutip pendapat Emerson yang menjelaskan pengertian Efektivitas sebagai berikut :"Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya".
Menurut The Liang Gie (1981:37) bahwa, "Efektivitas mengandung arti terjadinya suatu efek yang dikehendaki. Jadi perbuatan yang menimbulkan akibat sebagaimana yang dikehendaki orang lain."
Dari kedua pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa efektivitas adalah tercapainya suatu tujuan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan -sebelumnya atau dengan kata lain bila sasaran atau tujuan telah tercapai sesuai lengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.  Demikian pula sebaliknya  tujuan atau sasaran tidak sesuai dengan yang telah direncanakan, maka pekerjaan itu dapat dikatakan tidak efektif.
Selanjutnya akan peneliti kemukakan pengertian kerja menurut The Liang (1981:73), yaitu: "Kerja adalah keseluruhan pelaksanaan aktivitas-aktifitas jasmaniah dan rohaniah yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai tujuan tertentu atau mengandung suatu maksud tertentu. Terutama yang berhubungan dengan kelangsungan hidupnya."
Setiap kerja tentunya mencakup sesuatu cara tertentu dalam melakukan tiap-aktivitas, apapun tujuan dan maksud yang hendak dicapai dengan kerja itu.
Berdasarkan pada pengertian efektivitas dan kerja tersebut maka peneliti akan menarik kesimpulan bahwa pengertian efektivitas kerja ialah tercapainya  usaha atau pekerjaan dengan baik sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk lebih jelasnya berikut ini pengertian efektivitas kerja menurut sondang P. Siagian (1982:151), sebagai berikut: "Efektivitas berarti penyelesaian xrjaan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan itu tugas dinilai baik atau tidak sangat tergantung pada bila mana cara laksanakannnya dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu."
Berdasarkan dari uraian diatas, tercapai atau tidaknya suatu tujuan janisasi, terutama ditentukan oleh cara-cara bekerja yang efektif dan efisien oleh  karena itu dalam semua pekerjaan perlulah mengembangkan dan Melihara jiwa efektivitas dan efisiensi dalam dirinya. Ini merupakan tubahan sikap mental, kebiasaan bertindak dan cara bekerja yang selama ini dianut. Keberatan terhadap perubahan-perubahan itu dapatlah diringankan apabila disadari sepenuhnya faedah efektivitas dan efisiensi kerja pada diri pribadi maupun tujuan masyarakat

Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia


Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Dengan semakin beragamnya sumber daya manusia, masalah yang dihadapi organisasi juga semakin kompleks karena organisasi dihadapkan pada pengelolaan sumber daya manusia yang semakin beragam tersebut.
Organisasi merupakan tempat berkumpul dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu, semakin banyak sumber daya manusia yang terlibat di sana semakin kompleks pula organisasi tersebut. Pengelolaan sumber daya manusia bukan sesuatu yang baru, karena sejak dulu telah banyak diperbincangkan khususnya bagaimana cara pengelolaan sumber daya manusia yang efektif dalam suatu organisasi.
Amstrong (1988:3) mengemukakan bahwa pengelolaan sumber daya manusia adalah suatu pendekatan terhadap empat prinsip dasar yaitu;
1.      Sumber daya manusia adalah suatu harta yang paling penting yang dimiliki oleh suatu organisasi.
2.      Keberhasilan organisasi sangat mungkin dicapai dengan sumber daya manusis dari perusahaan tersebut saling berhubungan.
3.      Kultur dan nilai perusahaan, suasana organisasi dan perilaku manajerial yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil pencapaian yang terbaik.
4.      Integrasi, yaitu menjadikan semua anggota organisasi tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
       Pengelolaan dan pengembangan sumber daya manusia adalah proses yang meliputi beberapa langkah. Pertama, penyusunan proyeksi perusahaan (kondisi internal organisasi), Kedua, meninjau dokumen kemampuan manajemen untuk menentukan bakat pimpinan yang kini dimiliki (pendidikan, pengalaman, kompensasi, komunikasi dan motivasi). Ketiga, peyusunan bagan pergantian pimpinan.
Lebih lanjut Dessler (1986:280) mengemukakan bahwa tingkat manajemen yang berbeda memiliki kebutuhan pengembangan yang berbeda pula. Penelitian ini ingin mengangkat masalah kesatu dan kedua karena masalah tersebut sangat kompleks.
(1) Kondisi organissasi
Kondisi organisasi adalah kondisi dimana karyawan bekerja yang meliputi persamaan peluang bagi semua anggota organisasi, tidak adanya perbedaan perilaku dalam pelaksanaan tugas, adanya program pengembangan dalam bentuk pelatihan dan adanya rasa ikut memiliki bagi semua anggota organisasi.
(2) Pendidikan
Pendidikan adalah jalur atau jenjang yang berkesinambungan yang menunjukkan. peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia yang meliputi:
a)      Pendidikan umum atau pendidikan dasar yang merupakan bekal agar SDM mempunyai pengetahuan dasar yang memadai dan siap untuk  dilatih.
b)      Latihan ketrampilan teknis (technical know how) atau profesionalisme untuk bidang tertentu baik tingkat rendah, menengah, atau tinggi.
Jenjang latihan untuk pengembangan diri, mempersiapkan SDM agar lebih kreatif, bukan hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial, mengembangkan diri untuk menjadi unsur pimpinan dalam bidangnya yang mampu dikembangkan.
(3) Pengalaman
            Pengalaman adalah pembelajaran individual atau biasa disebut dengan learningform experience atau pembelajaran dari pengalaman. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran ini adalah:
a. Jenis pengalaman yang bisa mendorong pengembangan.
b. Apa yang bisa diajarkan oleh pengalaman, dan
c. Desain sistem pengembangan yang bisa mendatangkan manfaat yang maksimal.
(4).Kompensasi
Kompensasi adalah penghargaan manajemen yang diberikan secara umum dengan tujuan memberikan dorongan kepada karyawan guna pencapaian tujuan organisasi, atau segala sesuatu yang diterima oleh para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka (Handoko, 1989:155). Dalam penelitian ini kompensasi yang diangkat adalah kompensasi dalam bentuk modal usaha, program pelatihan, penerbitan ijin usaha dan penyuluhan karena keempat kompensasi inilah yang sangat diperlukan pengusaha untuk lebih meningkatkan kinerja organisasi.
(5) Komunikasi
Komunikasi adalah aktivitas yang menyebabkan orang lain menginterpretasikan suatu ide, terutama yang dimaksudkan oleh pembicara atau penulis (Flippo, 1992:448). Dalam penelitian ini proses komunikasi yang diangkat adalah kesadaran akan pentingnya komunikasi, komitmen untuk berkomunikasi, tingkat keterlibatan karyawan untuk berkomunikasi dengan atasan guna kepentingan organisasi serta dukungan dari semua pihak atas terciptanya komunikasi yang baik antara karyawan dengan karyawan serta karyawan dengan atasan.
(6) Motivasi
            Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya, sehingga terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi yang ditunjukkan oleh seseorang dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain yang menghadapi situasi yang sama (Siagian, 1997:137).

Konsep Manajemen



Definisi Manajemen
Istilah pengelolaan dalam penelitian ini diterjemahkan dari dan identik dengan konsep manajemen sehingga dalam pemakaiannya saling dipertukarkan, dan menyebutkan istilah pengelolaan sama dengan konsep manajemen. Dalam arti pengelolaan, Mulyono Sadyohutomo (2008: 1) berpendapat bahwa “Manajemen adalah suatu proses pengaturan atau ketatalaksanaan untuk mencapai suatu tujuan dengan melibatkan orang lain.”
Kamus Umum Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan terbitan Balai Pustaka (dalam Sampara Lukman, 1999: 2) mengartikan manajemen sebagai “suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.” Sementara itu, Sampara Lukman (1999: 2) berpendapat bahwa “Manajemen adalah kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain agar orang tersebut termotivasi dengan menggunakan keahliannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”
Dwight Waldo (dalam Sampara Lukman, 1999: 2) mendefinisikan manajemen sebagai “suatu rangkaian tindakan dengan maksud untuk mencapai hubungan kerjasama yang rasional dalam suatu sistem administrasi.” Dalam definisi manajemen tersebut, Dwight Waldo terutama menekankan aspek rasionalitas, sehingga manajemen pada dasarnya dipandang sebagai “suatu rangkaian tindakan yang dimaksudkan untuk mencapai rasionalitet yang dilakukan secara sadar.”
Business Dictionary (dalam http://www.businessdictionary.com/definition/ management.html) mendefinisikan manajemen sebagai “organization and coordination of the activities of an enterprise in accordance with certain policies and in achievement of clearly defined objectives” (pengorganisasian dan koordinasi terhadap rangkaian aktivitas dari suatu organisasi berdasarkan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan dan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan secara jelas).
The American Heritage (dalam Dictionary of the English Language, Fourth Edition copyright ©2000 by Houghton Mifflin Company. Updated in 2009. Published by Houghton Mifflin Company, yang dapat ditemukan pada http://img.tfd.com/hm/mp3/M0070600) mengartikan manajemen sebagai “The act, manner, or practice of managing; handling, supervision, or control. 2. The person or persons who control or direct a business or other enterprise. 3. Skill in managing; executive ability” (1. Tindakan, cara atau praktik mengelola: menangani, memantau, atau mengawasi. 2. Orang atau sekumpulan orang yang mengawasi atau mengarahkan suatu organisasi. 3. Ketrampilan dalam mengelola: kemampuan eksekutif).
Thesaurus Legend (dalam WordNet 3.0, Farlex clipart collection. © 2003-2008 Princeton University, Farlex Inc.) secara umum mendefinisikan manajemen sebagai “The act of managing something; management of the program; the direction of the economy" (Tindakan mengelola sesuatu; misalnya mengelola program; mengarahkan ekonomi). Sementara itu, Brainy Media (dalam http://www.brainyquote.com/index.html) secara detail mendefinisikan manajemen sebagai “The act or art of managing; the manner of treating, directing, carrying on, or using, for a purpose; administration; guidance; control” (Tindakan atau seni mengelola: cara menyatakan, mengarahkan, melaksanakan, atau menggunakan, misalnya administrasi, bimbingan, pengawasan).
Berdasarkan pendapat dan pandangan tersebut di atas, maka manajemen pada intinya berhubungan dengan serangkaian tindakan mengelola organisasi berdasarkan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan secara jelas dalam organisasi yang bersangkutan. Di dalam organisasi, tindakan mengelola tersebut mencakup merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi.

Fungsi Manajemen
Mulyono Sadyohutomo (2008: 2) dan M. Manullang (1996: 17) mengemukakan bahwa “Fungsi manajemen dirumuskan George R. Terry ada 4, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), dan pengendalian (controlling). Semua proses tersebut dilakukan dalam rangka mengemban tugas pokok organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”
George R. Terry (dalam Mulyono Sadyohutomo, 2008: 2) mengemukakan bahwa manajemen mencakup empat fungsi dasar, yang sering disingkat menjadi POAC, yaitu:
1)        Planning (Perencanaan)
2)        Organizing (Pengorganisasian)
3)        Actuating (Penggerakan)
4)        Controlling (Pengawasan).
Dalam kaitan dengan fungsi manajemen yang dirumuskan oleh George R. Terry tersebut, Mulyono Sadyohutomo (2008: 2) menyatakan pendapatnya sebagai berikut:
“Dalam manajemen modern, keempat fungsi manajemen sebagaimana dikemukakan George R. Terry tersebut bukan berjalan secara linier, tetapi merupakan siklus spiral. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa siklus manajemen yang dilakukan oleh suatu organisasi adalah merencanakan, mengorganisasikan staf dan sumber daya yang ada, melaksanakan program kerja, dan mengendalikan jalannya pekerjaan. Di dalam tahapan pengendalian dilakukan evaluasi untuk memperoleh umpan balik (feed back) untuk dasar perencanaan selanjutnya atau untuk perencanaan kembali (replanning). Demikian seterusnya sehingga kegiatan fungsi-fungsi manajemen tersebut merupakan suatu siklus spiral.”

Keempat fungsi manajemen (Mulyono Sadyohutomo, 2008: 2) tersebut telah diperluas pengertiannya oleh beberapa ahli sebagai berikut:
1)   Planning, termasuk forecasting (prakiraan) dan budgeting (perencanaan pendanaan).
2)   Organizing, termasuk staffing (pengaturan staf) atau assembling resources (pemaduan sumber daya).
3)   Actuating, termasuk leading (kepemimpinan) dan coordinating (koordinasi). Leading termasuk directing atau commanding (perintah) dan motivating (motivasi).
4)   Controlling, termasuk evaluating (penilaian) dan reporting (pelaporan).

Dalam kaitan dengan fungsi manajemen, Business Dictionary (dalam http://www.businessdictionary.com/definition/management.html) menyebutkan bahwa “As a discipline, management comprises of the interlocking functions of formulating corporate-policy and organizing, planning, controlling, and directing the firm's resources to achieve the policy's objectives” (Sebagai sebuah disiplin ilmu, manajemen mencakup fungsi-fungsi yang saling berhubungan dalam hal merumuskan kebijakan organisasi dan mengorganisasikan, merencanakan, mengawasi, serta mengarahkan sumber daya-sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan dari kebijakan yang telah dirumuskan).
Dengan demikian, manajemen merupakan proses pencapaian tujuan organisasi melalui orang lain dengan cara menjalankan fungsi merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), menggerakkan (actuating), dan mengendalikan (controlling).